Beberapa Fakta Tentang Pemburu Badai Selama di Musim Topan

INFOPALAPA – Beberapa Fakta Tentang Pemburu Badai Selama di Musim Topan ! Selama musim badai setiap tahun, orang-orang di seluruh dunia umumnya akan mengungsi ke tempat aman sebelum angin ribut datang ke wilayah tinggal mereka.

Selain itu, mereka juga membeli persediaan penting, seperti sandang, pangan dan medis untuk berjaga-jaga apabila sumber-sumber ini tak bisa lagi terjangkau selama cuaca buruk.

Akan tetapi, beda halnya dengan pemburu badai. Kondisi alam seperti itu justru dianggap sebagai ‘undangan’ untuk mendatangi bahaya.

Beberapa di antara mereka bahkan sudah berkali-kali mengalami kejadian buruk selama badai, tornado, dan puting beliung demi bisa memberikan prediksi bermanfaat bagi ahli meteorologi.

BACA JUGA – Inilah 5 Tempat dan Mengerikan Dan Seram Di Google Maps !

Mengutip Mental Floss, Selasa (22/10/2019), pemburu badai di Amerika Serikat setiap tahun melihat rata-rata 1.253 tornado –angin berolak (berpusar) berbentuk spiral, disertai turunnya gumpalan awan yang berbentuk corong dan dapat menimbulkan kerusakan, menciptakan angin hingga 250 mil per jam.

Bagi banyak orang, badai yang mengamuk adalah pemandangan mengerikan. Namun tidak bagi para pemburu badai, peristiwa alam itu justru dianggap indah.

Untuk lebih memahami apa yang memotivasi orang-orang tersebut dalam mencari peristiwa bencana, Mental Floss berbicara dengan tiga spesialis cuaca ekstrem. Berikut 5 fakta tentang pemburu badai.

Beberapa Fakta Tentang Pemburu

1. Melihat Ketenangan di Mata Badai

Beberapa Fakta Tentang Pemburu Badai Selama di Musim Topan

Dengan adanya 13 badai yang menghantam benua AS sejak 2010, penangkapan badai memerlukan paspor dan kesediaan si pemburu untuk menghabiskan waktu berhari-hari di luar negeri.

Mengapa mereka melakukannya? Bagi Josh Morgerman, seorang pemburu badai yang berbasis di California Selatan dan pernah ‘menangkap’ satu topan di Long Island pada masa mudanya, menciptakan hubungan antara badai yang besar adalah sebuah kegembiraan.

“Seluruh hidup saya dihabiskan untuk berburu perasaan itu lagi dan lagi,” katanya kepada Mental Floss. Namun, tak ada maksud untuk bersenang-senang semata, ia juga mengukur tekanan udara dan mencatat data pengamatan yang dapat membantu para ahli meteorologi dalam menganalisis badai.

Umumnya, seorang pemburu juga dapat mengukur faktor-faktor lain seperti kelembaban, kecepatan angin, dan suhu di wilayah yang dihinggapi badai.

Tidak seperti tornado, yang punya karakteristik visual jelas saat berputar dalam bentuk kerucut di atas tanah, badai hanya terlihat seperti konsentrasi cuaca yang dahsyat.

Kombinasi hujan lebat, angin, dan puing-puing yang dibawa terbang bisa sulit dijelaskan, kecuali mereka pernah mengalaminya secara langsung.

Karena ada cuaca ganas yang terjadi di daerah inti badai yang dikenal sebagai eyewalleye, atau center, Morgerman mengungkap bahwa di dalamnya adalah sebuah kedamaian.

“Di dalam badai (eyewall) adalah hal yang sangat luar biasa,” ujarnya. “Beberapa terdengar seperti kereta api atau serigala melolong,” jelasnya.

Ia mengisahkan, ketika Badai Michael menghantam AS, bangunan tempat tinggalnya bergetar. Jendela-jendela pecah.

“Dengan badai seperti itu, Anda tidak dapat melihat apa pun. Semuanya serba putih. Anda hanya melihat puing-puing terbang. Ini tontonan yang luar biasa untuk dilihat. Namun saat bisa menyaksikan eyewall, itu seperti ketenangan. Langit biru … Ada sesuatu yang sangat menarik tentangnya.”

2. Bahaya Sesungguhnya Bukan Badainya, Melainkan Lalu Lintas di Jalan

Beberapa Fakta Tentang Pemburu Badai Selama di Musim Topan

Cuaca buruk dapat menyebabkan angin kencang dan banjir. Kondisi ini buruk bagi orang awam, tetapi tidak untuk pemburu badai. Ancaman sesungguhnya adalah lalu lintas yang kacau, yang kerap terjadi kecelakaan ketika peristiwa seperti ini terjadi.

Hal tersebut karena para pemburu menghabiskan begitu banyak waktu dengan bepergian.

Hanya ada satu insiden fatal sebagai akibat langsung dari tornado, yaitu ketika pemburu Tim Samaras, Paul (putra Samaras), dan Carl Young (rekan Samaras) terjebak di dalam truk mereka dan dihantam angin berkecepatan 200 mil per jam selama El Tornado Reno pada 2013. Ketiganya meninggal di tempat.

Menurut pemburu badai yang berbasis di Montana dan ahli meteorologi Layanan Cuaca Nasional, Cory Mottice, pemburu yang berpengalaman lebih takut akan lalu lintas daripada cuaca.

“Di daerah yang lebih padat penduduknya, mereka amat mengkhawatirkan kemacetan lalu lintas,” katanya.

Johnson mengamini ucapan Mottice. ia menambahkan bahwa cedera akibat badai sering dialami oleh mereka yang duduk di kursi belakang mobil.

“Hal yang membuat saya terjaga pada malam hari saat berburu badai adalah karena saya mengemudi, bukan tornado,” katanya.

3. Tidak Menghabiskan Banyak Waktu di Dalam Badai

Beberapa Fakta Tentang Pemburu Badai Selama di Musim Topan

Sebagian besar pemburu profesional menghabiskan sebagian besar karir mereka untuk menghampiri badai, tidak menunggu topan ini datang –baik dengan mengemudi ke arah badai, atau dalam kasus Morgerman, menaiki kapal terbang.

Morgerman mungkin berada di dalam badai selama berjam-jam, sedangkan tornado mendarat hanya beberapa menit.

Johnson juga mengatakan, dia menghabiskan banyak waktunya untuk bepergian. “Ketika Anda melihat video live streaming atau liputan langsung tentang peristiwa tornado yang luar biasa, kegiatan seperti ini hanyalah 1 persen dari waktu keseluruhan yang kami habiskan,” ucap Johnson kepada Mental Floss.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *